Sejak peradaban Islam menguasai teknologi pembuatan kertas, aktivitas penulisan buku di akhir abad ke-8 M kian menggeliat. Jumlah buku yang terbit di era kekuasaan Dinasti Abbasiyah itu sungguh melimpah. Pada era itu minat baca sangat tinggi, sehingga setiap orang berlomba membeli dan mengoleksi buku.

Ziauddin Sardar dan MW Davies dalam bukunya berjudul Distorted Imagination menggambarkan penerbitan buku di dunia Islam 10 abad silam, hampir setara dengan pencapain peradaban Barat saat ini, baik secara kualitas maupun kuantitas. “Hampir 1.000 tahun sebelum buku hadir di peradaban Barat, industri penerbitan buku telah berkembang pesat di dunia Islam,” paparnya.

Guna menampung buku-buku yang terbit setiap saat, pada abad ke-9 M di hampir seluruh kota Islam sudah ada perpustakaan. Masyarakat Islam menyebutnya sebagai dar al-‘ilm. Sejatinya konsep perpustakaan atau library sudah mulai muncul di era peradaban bangsa Sumeria Kuno. Para arkeolog menemukan bekas bangunan perpustakaan di Nippur bertarikh 1900 SM.
Peradaban Islam di era kekhalifahan tak hanya memiliki perpustakaan yang banyak. Masyarakat Muslim di masa keemasan juga memperkenalkan konsep perpustakaan modern. Bagi masyarakat Islam, perpustakaan bukan hanya tempat untuk menyimpan risalah. Namun, umat Islam menjadikan dar al-‘ilm sebagai pusat penyebaran ilmu pengetahuan dan peradaban.

Di dunia Islamlah kali pertama perpustakaan umum berdiri. Peradaban Islam pula yang menjadikan perpustakaan sebagai tempat untuk meminjam buku. Tak cuma sebatas itu, dar al-‘ilm pun menjadi tempat pertemuan dan diskusi. Perpustakaan di era kejayaan Islam juga menjadi sarana pertukaran ilmu antara guru dan muridnya.
Yang lebih mengagumkan lagi, perpustakaan Islam di zaman kekhalifahan telah memperkenalkan konsep katalog. Pada masa itu, buku-buku yang disimpan di perpustakaan telah diatur dan ditempatkan ke dalam genre dan kategori. Konsep itu ternyata hingga kini masih digunakan di perpustakaan modern.
“Perpustakaan memiliki peran dan posisi yang tinggi dalam masyarakat Islam di abad pertengahan,” tutur O Pinto dalam bukunya bertajuk The Libraries of the Arabs during the time of the Abbasids,’ in Islamic Culture. Menurutnya, hampir di setiap masjid dan lembaga pendidikan yang tersebar di dunia Islam, pada masa itu, dipastikan memiliki perpustakaan dengan jumlah buku yang melimpah.

Di perpustakaan itulah, papar Pinto, para pelajar menghabiskan waktunya dengan membaca buku. Menurut Pinto, di Baghdad terdapat hampir 36 perpusatakaan umum–sebelum kota metropolis intelektual itu diluluh-lantakkan pasukan tentara Mongol. Di pusat pemerintahan Abbasiyah itu juga terdapat ratusan pedagang buku dan penerbitan. Sangat wajar jika pada masa itu, ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat dan dunia Islam mampu menggenggam dunia.

Para penguasa pada era itu begitu mendukung berdirinya perpustakaan. Khalifah Al-Mutawwakil–penguasa Dinasti Abbasiyah–pada abad ke-9 M sempat memerintahkan berdirinya `zawiyat qurra bagi masyarakatnya yang gemar membaca. Tak cuma itu, bangunan perpustakaan pun dirancang dengan megah dan refresentatif.
Sejarawan Al-Muqaddasi menuturkan, Adhud al-Daula (wafat 983 M) mendirikan sebuah perpustakaan yang megah di Shiraz. Perpustakaan itu berdiri di sebuah kompleks yang nyaman; dikelilingi taman, danau, dan aliran air yang menenangkan pikiran. Gedungnya diatapi kubah. Tak kurang dari 360 ruangan disediakan untuk menyimpan buku berdasarkan kategorinya.

Dalam buku berjudul The Rabic Book karya Yaqut Mu’jam yang diterjemahkan G French disebutkan di Kota Merw, di wilayah Persia Timur, pada 1216 M hingga 1218 M terdapat 10 perpustakaan umum. Dua perpustakaan berada di masjid dan sisanya di madrasah.

R Landau dalam bukunya bertajuk Morocco menuturkan di kota Marrakech, kota terbesar ketiga di Maroko, berdiri Masjid Kutubya. Masjid yang dibangun pada era kekuasaan Abd Al-Mumin dari Dinasti Muwahiddun itu sengaja diberi nama Kutubya, karena di sekelilingnya terdapat tak kurang dari 200 buku. Pada masa kekhalifahan, buku menjadi komoditas perdagangan yang menguntungkan di Maroko.

“Bahkan di Spanyol Muslim terdapat 70 perpustakaan umum,” ungkap G Le Bon dalam bukunya berjudul La Civilisation des Arabes. Sejak abad ke-9 M, perpustakaan telah tersebar luas di kota-kota Islam. Di zaman itu, perpustakaan yang megah dan besar juga telah hadir di Kairo, Aleppo, dan kota-kota besar lainnya di Iran, Asia Tengah, dan Mesopotamia.

Para penguasa Muslim yang cinta pada ilmu pengetahuan pun mendirikan perpustakaan pribadi. Jumlah buku yang dikoleksinya pun begitu melimpah. Perpustakaan Mostandir, miliki Sultan Mesir memiliki koleksi tak kurang dari 80 ribu volume. Bahkan, perpustakaan milik Dinasti Fatimiah di Kairo tercatat memiliki satu juta volume buku. Selain itu, perpustakaan milik penguasa Muslim di Tripoli menyimpan koleksi buku hingga mencapai 200 ribu volume.

Sejarah juga mencatat, jumlah perpustakaan umum yang dimiliki penguasa Kekhalifahan Umayyah di Spanyol Muslim, mencapai 70 unit. Selain itu, para ilmuwan dan ulama di kota itu juga memiliki perpustakaan pribadi yang jumlahnya tak terhitung. Tak heran, jika Cordoba, ibu kota pemerintahan Dinasti Umayyah di Spanyol, menjadi pusat ilmu pengetahuan yang sangat pesat.

Pada era kekhalifahan Islam, perpustakaan umum yang tersebar di kota-kota besar memiliki jaringan yang kuat. Saking banyaknya jumlah buku yang disimpan di perpustakaan Muslim, saat Kota Baghdad dihancurkan tentara Mongol dibawah komado Hulagu Khan, sungai-sungai di kota itu berwarna hitam pekat yang berasal dari tinta buku.

Menjamurnya perpustakaan di dunia Islam pada era keemasan telah membuat masyarakat Muslim mampu menguasai dunia. Masa keemasan dunia Islam itu mulai memudar, setelah perpustakaan-perpustakaan besar yang menyimpan koleksi buku-buku bernilai tinggi dihancurkan saat bangsa Mongol melakukan invansi. Di era kolonialisme juga banyak buku penting dari dunia Islam yang ‘dirampok’ dan dibawa para penjajah Barat ke Eropa.

Semua Berawal dari Masjid

Sejatinya masjid tak hanya menjadi tempat beribadah. Menurut J Pedersen dalam bukunya Arabic Book, pada masa keemasan Islam, masjid juga berfungsi sebagai pusat kegiatan intelektualitas. Di era kekhalifahan masjid merupakan tempat para sarjana dan ulama Muslim menyusun buku.

“Sebelum diterbitkan, seorang penulis atau ilmuwan harus mempresentasikan isi bukunya kepada publik. Mereka melakukannya di masjid dengan cara dibaca atau didiktekan,” papar Ziauddin Sardar. Paparan penulis atau ilmuwan itu lalu didengarkan masyarakat umum dan dikopi oleh seorang warraqin–yang bekerja sebagai penulis yang menyalin berbagai manuskrip yang dipesan para pelanggannya.

Masjid dan perpustakaan pada zaman kejayaan Islam tak bisa dipisahkan. Sebab, masjid juga memainkan peran yang penting lainnya, yakni sebagai perpustakaan. Kehadiran perpustakaan di dunia Islam juga berasal dari aktivitas keilmuan yang digelar di rumah Allah SWT. Menurut Pedersen, pada masa itu masyarakat Muslim menyerahkan koleksi bukunya ke masjid untuk disimpan di dar al-kutub (perpustakaan).

Masyarakat di hampir seluruh dunia Islam, mulai dari Atlantik hingga ke Teluk Persia, menjadikan masjid sebagai tempat yang aman untuk menyimpan buku. “Buku-buku itu dihadiahkan dan banyak ilmuwan yang mewariskan perpustkaan pribadinya kepada masjid untuk menjamin buku mereka tetap terpelihara,” ungkap R Mackensen dalam Background of the History of Muslim Libraries Observes.

Tak heran, jika koleksi buku yang dimiliki perpustakaan masjid begitu melipah. Di Allepo, Suriah, misalnya, perpustakaan masjid tertua bernama Sufiya mengoleksi buku hampir 10 ribu volume. Buku-buku itu merupakan pemberian dari penguasa Kota Aleppo yang termasyhur, Pangeran Sayf al-Dawla. Gerakan wakaf buku ke perpustakaan masjid yang dipelopori pemimpin itu juga diikuti oleh para ilmuwan dan intelektual.

Masjid Abu Hanifah di Irak pun memiliki koleksi buku yang melimpah. Buku-buku yang tersimpan di perpustakaan masjid itu merupakan hibah atau hadiah dari koleksi pribadi. Dengan menyimpan bukunya di perpustakaan masjid, buku-buku itu akan dirawat dan dibaca oleh lebih banyak orang. Sehingga, pengetahuan yang terkandung dalam buku itu bisa tersebar lebih luas.

Salah seorang tokoh yang menyumbangkan koleksinya ke Masjid Abu Hanifah adalah seorang dokter bernama Yahia Ibnu Jazla (wafat 1099 M) dan penulis sejarah Al-Zamakhshari (wafat 1143 M). Perpustakaan masjid lainnya yang juga mengoleksi banyak buku adalah Al-Qarawiyyin. Aktivitas perpustakaan dan keilmuwan di masjid yang terletak di Kota Fez, Maroko, itu telah melahirkan universitas pertama di dunia.

Sejarawan Al-Fasi pada 1548 M mengungkapkan, salah seorang ilmuwan yang menyumbangkan buku yang ditulisnya adalah Abu Abdullah Muhammad Al-Ajmawi. Ia menyumbangkan karya besarnya berjudul Al-Qawl Al-Mutabar kepada para siswa yang belajar di masjid itu. Ilmuwan legendaris, Ibnu Khaldun, juga mewakafkan bukunya yang berjudul Kitab Aal-Ibar ke perpustakaan masjid itu.

Buku yang berharga itu lalu dipinjamkan kepada orang tepercaya selama dua bulan, setelah itu dikembalikan lagi ke perpustakaan. Jadilah perpustakaan masjid menjadi tempat penyimpanan buku-buku yang langka dan tak ternilai harganya. Dengan koleksi buku yang melimpah, para pelajar, serta ilmuwan pun berbondong-bondong pergi ke masjid.

Mereka datang ke masjid dengan dua tujuan. Untuk beribadah, sekaligus meningkatkan pengetahuan dengan membaca buku. Bahkan, para ilmuwan dan sarjana Muslim sampai menetap di masjid. Syahdan, dua ulama dan ilmuwan Muslim terkemuka, Al-Ghazali dan Al-Baghdadi, sempat menetap beberapa periode di menara Masjid Umayyah di Damaskus.

Sedangkan, Ibnu Al-Haitham fisikawan penemu optik sempat tinggal di sebuah qubah Masjid Al-Azhar Kairo, Mesir. Menjelang meninggal, para ulama dan ilmuwan itu mewakafkan koleksi buku mereka ke masjid. Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, pada era kejayaan Islam, juga memiliki empat perpustakaan. Tempat tersuci ketiga umat Islam itu mengoleksi buku dalam jumlah yang sangat banyak. Buku itu tersimpan di Madrasah Nahawiya dan Ashrafyia yang berada di sekitar mesjid