180px-Ali-BabaHaly Abbas. Itulah nama panggilan Ali Ibnu Abbas Al-Majusi di Barat. Dokter dan psikolog Mus lim ini turut berjasa dalam mengembang kan teknologi pengolahan aspal men jadi minyak. Ilmuwan dari Persia itu cukup dikenal di Barat lewat buah pikir nya yang berjudul Kitab Al-Malikiserta Kitab Kamil as-Sina’a at-Tibbiyya( Com plete Book of the Medical Art). Bu ku teks kedokteran dan psikologi yang ditulisnya itu sangat berpengaruh di Barat. Al-Majusi terlahir di Ahvaz, Persia Tenggara. Ia menimba ilmu dari Syeikh Abu Maher Musa ibnu Sayyar. Ia adalah satu dari tiga dokter terhebat di kekhalifahan Islam bagian timur pada zamannya. Berkat kehebatannya itu, dia pun diangkat menjadi dokter di istana Amir Adhad al-Dowleh Fana Khusraw salah seorang penguasa dari Dinasti Buwaih yang berkuasa dari tahun 949 M hingga 983 M.

Ia mendirikan sebuah rumah sakit di Shiraz, Persia, serta Rumah Sakit Al-Adu di di Baghdad pada 981 M. Sebelum masuk Islam, Al-Majusi adalah penganut Zoo raster yang menyembah api. Al-Majusi berhasil mengolah aspal men jadi minyak yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit dan luka kulit. Ia memeras endapan aspal yang dipanaskan untuk diambil airnya.

Selama mengabdikan dirinya untuk Amir Dinasti Buwaih, Al-Majusi menulis Kitab al-Maliki( Buku Istana). Buku itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin bertajuk Liber Regalis atau Rega lis Dispositio. Buku ini dianggap lebih sistematis dan lebih ringkas dibanding kan ensiklopedia karya Al-Razi yang ber judul Al-Hawi. Bahkan, dibandingkan dengan The Canon of Medicinekarya Ibnu Sina yang legendaris itu, Kitab Al-Malikiini dipandang lebih praktis.

180px-De_Ludiciis_Natiuitatum_Albohali_Nuremberg_1546Kitab Al-Malikiterbagi dalam 20 diskursus. 10 bab pertama mengulas teori dan 10 bab sisanya mengupas praktik kedokteran. Kitab karya Al-Majusi itu diterjemahkan oleh Constantinus Afri canus ke dalam bahasa Latin berjudul Liber Pantegni. Buku itulah yang menjadi rujukan teks didirikannya Sekolah Kedokteran Saler nitana di Salerno. Secara utuh, kitab itu diterjemahkan oleh Stephen Antioch pada tahun 1127 M. Buku kedokteran itu lalu dicetak di Venicia pada 1492 dan 1523 M.

Dalam karyanya itu, Al-Majusi menekankan pentingnya hubungan yang sehat antara dokter dan pasien. Hubungan itu, kata dia, sangat penting dalam etika kedokteran. Kitab itu juga mengupas secara detail metodologi ilmiah yang berkaitan dengan riset biomedikal modern. Secara khusus, sang ilmuwan juga mengupas seluk-beluk masalah psikologi dalam bu ku nya The Complete Art of Medicine. hri

Ali Ibnu Abbas Al-Majusi aly Abbas. Itulah nama panggilan Ali Ibnu Abbas Al-Majusi di Barat. Dokter dan psikolog Mus lim ini turut berjasa dalam mengembang kan teknologi pengolahan aspal men jadi minyak.

Ilmuwan dari Persia itu cukup dikenal di Barat lewat buah pikirnya yang berjudul Kitab Al-Malikiserta Kitab Kamil as-Sina’a at-Tibbiyya( Complete Book of the Medical Art). Bu ku teks kedokteran dan psikologi yang ditulisnya itu sangat berpengaruh di Barat.

Al-Majusi terlahir di Ahvaz, Persia Teng gara. Ia menimba ilmu dari Syeikh Abu Maher Musa ibnu Sayyar. Ia adalah satu dari tiga dokter terhebat di kekhalifahan Islam bagian timur pada zamannya. Ber kat kehebatannya itu, dia pun diangkat men jadi dokter di istana Amir Adhad al-Dowleh Fana Khusrawsalah seorang penguasa dari Dinasti Buwa ih yang ber kuasa dari tahun 949 M hingga 983 M.

Ia mendirikan sebuah rumah sakit di Shiraz, Persia, serta Rumah Sakit Al-Adu di di Baghdad pada 981 M. Sebelum masuk Islam, Al-Majusi adalah pe nganut Zoo raster yang menyembah api. Al-Majusi berhasil mengolah aspal men jadi minyak yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit dan luka kulit. Ia memeras en dapan aspal yang dipa naskan untuk diambil airnya.

Selama mengabdikan dirinya untuk Amir Dinasti Buwaih, Al-Majusi menulis Kitab al-Maliki( Buku Istana). Buku itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin bertajuk Liber Regalis atau Rega lis Dispositio. Buku ini dianggap lebih sistematis dan lebih ringkas dibanding kan ensiklopedia karya Al-Razi yang ber judul Al-Hawi. Bahkan, dibandingkan dengan The Canon of Medicinekarya Ibnu Sina yang legendaris itu, Kitab Al-Malikiini dipandang lebih praktis.

Kitab Al-Malikiterbagi dalam 20 dis kursus. 10 bab pertama mengulas teori dan 10 bab sisanya mengupas praktik kedokteran. Kitab karya Al-Majusi itu diterjemahkan oleh Constantinus Afri canus ke dalam bahasa Latin berjudul Liber Pantegni. Buku itulah yang menjadi rujukan teks didirikannya Sekolah Kedokteran Saler nitana di Salerno. Secara utuh, kitab itu diterjemahkan oleh Stephen Antioch pada tahun 1127 M. Buku kedokteran itu lalu dicetak di Venicia pada 1492 dan 1523 M.

Dalam karyanya itu, Al-Majusi me nekankan pentingnya hubungan yang sehat antara dokter dan pasien. Hubungan itu, kata dia, sangat penting dalam etika kedokteran. Kitab itu juga mengupas secara detail metodologi ilmiah yang berkaitan dengan riset biomedikal modern. Secara khusus, sang ilmuwan juga mengupas seluk-beluk masalah psikologi dalam bu ku nya The Complete Art of Medicine.